Romainur, SP, tak mau menjadi martir. Apalagi serupa lilin kecil yang mati seusai menerangi sekelilingnya. Makanya sebagai PNS di Badan...
Romainur, SP, tak mau menjadi martir. Apalagi serupa lilin kecil yang mati seusai menerangi sekelilingnya. Makanya sebagai PNS di Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BP2KP) di Kabupaten Bireuen, Aceh, dia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia mampu menerapkan ilmunya dengan menggeluti usaha tambak udang Vaname. Sarjana pertanian yang biasa disapa Pak Roma ini sehari-harinya tinggal di wilayah Pertambakan, tepatnya di Desa Blang Teumulek Kecamatan Simpang Mamplam, yang berjarak 500 meter dari lokasi tambak udang miliknya.
Menurut Romainur yang kini menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Koordinasi dan Kemitraan BP2KP Bireun, selama ini para petani tambak belum melaksanakan budi daya udang secara maksimal sehingga banyak terjadi kegagalan. “Misalnya budi daya intensif yang pelaksanaannya tidak sesuai dengan tuntunan intensif bisa menyebabkan gagal panen. Tetapi apabila benar-benar mengikuti aturan intensif bisa sukses," ujar Roma yang telah menekuni usaha tambak udang Vaname sejak empat tahun yang lalu.
Dia mencontohkan, pada tambak miliknya seluas 5.000 meter persegi bisa menghasilkan 2.5 ton udang Vaname dalam sekali panen. Roma menjelaskan, keunggulan udang Vaname yaitu pertumbuhannya lebih cepat dan kelangsungan hidupnya tinggi. Apalagi dengan penerapan pola budi daya intensif dinilainya sangat menguntungkan, karena dapat menggunakan padat tebar yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan volume produksi. Roma menyayangkan, hanya pengusaha kalangan menengah ke atas yang menerapkan sistem tersebut, lantaran masih sedikitnya yang pemahaman petani tambak tentang budi daya secara intensif. Menurutnya usaha pertambakan selain menguntungkan dirinya juga bisa menyerap tenaga kerja lokal.
"Saya memiliki 4 hektar lahan tambak yang bisa menyerap 6 orang tenaga kerja lokal," ujarnya bersemangat.
Berikut ini sejumlah tips yang dibagikan oleh Romainur kepada para petani tambak agar bisa sukses seperti dirinya dalam bertani tambak. Menurutnya penggunaan kincir harus disesuaikan dengan jumlah benur. Selanjutnya, untuk udang yang sudah berusia sedang penggunaan kincir perlu ditambah. Selain itu penggunaan pakan yang cukup sesuai dengan yang dianjurkan. Sebagai contoh, 200.000 benur diperkirakan menghabiskan pakan 5 ton. Perlu dilakukan kontrol laboratorium setiap minggu.
Hal tersebut untuk mengetahui kesimbangan mikro organisme dan keseimbangan bahan kimia yang ada di dalam tambak. Perlu dilakukan kontrol iklim, hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi suhu air tambak. Apabila hujan suhu air tambak menjadi dingin, untuk itu perlu dilakukan pengapuran supaya air tambak tetap hangat. Roma pun mengungkap kendala utama dalam menggeluti usaha pertambakan udang, yaitu peningkatan harga pakan kadang tak berimbang dengan harga jual udang yang fluktuatif.
COMMENTS